Kawan,
tentunya kau tahu pemberitaan di beberapa media akhir-akhir ini, bukan??
Saya tak habis pikir, bagaimana nyawa manusia bisa dengan begitu mudahnya diambil oleh manusia lainnya. Padahal, dulu sewaktu masih jadi murid Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), saya diajarkan bahwa bangsa Indonesia kita ini dikenal dengan sifat ramah tamah, suka menolong, tenggang rasa, toleransi, rajin menabung (ini juga gak yah..??), dan sebagainya. Akan tetapi, berita di media akhir-akhir ini mengatakan lain. Ambil contoh kasus Mujiyanto, yang karena alasan cemburu-menurut pengakuannya- lalu dengan tega membunuh begitu banyak orang. Contoh lain, pembunuhan keluarga Made Purnabawa di Nusa dua, Bali yang dilakukan oleh Heru ardianto yang berlatar belakang harta belaka, dan mungkin ada kasus-kasus lain.
Menurut ilmu Psikologi Pendidikan, hakikat manusia adalah sebagai berikut;
a. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
c. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
d. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
e. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
f. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
g. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
h. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Melihat poin b, c, g, dan h pada hakikat manusia tersebut diatas, lantas bagaimanakah dengan Mujiyanto, Heru, dan pelaku kejahatan lainnya? Bukankah mereka juga manusia? dikatakan pula, bahwa manusia adalah makhluk istimewa dan paling mulia diantara ciptaanNYA. Manusia adalah mahkluk berbudaya, yang mampu berpikir dan menggunakan akal serta perasaannya. Lantas, dimanakah letak keistimewaan, kemuliaan, kebudayaan, akal, dan perasaan yang dibangga-banggakan manusia atas mahkluk lainnya?
Sebagai seorang guru, maka saya mencoba mengkaitkannya dengan dunia saya; Pendidikan. Pendidikan, oleh Ki Hajar Dewantara diartikan sebagai proses memanusiakan manusia yang berlangsung terus menerus seumur hidup. Proses memanusiakan manusia (humanisasi) adalah pengangkatan manusia ke taraf insani. Didalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis). Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.
Faktor-faktor pendidikan
- Faktor Tujuan
Tujuan pendidikan nasional bangsa Indonesai adalah Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Sesungguhnya faktor tujuan bagi pendidikan adalah:
a) Sebagai Arah Pendidikan, tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya.
b) Tujuan sebagai titik akhir, suatu usaha pasti memiliki awal dan akhir. Mungkin saja ada usaha yang terhenti karena sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan berakhir. Pada umumnya, suatu usaha dikatakan berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai.
c) Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain, apabila tujuan merupakan titik akhir dari usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.M
d) Memberi nilai pada usaha yang dilakukan.
- Faktor Pendidik
Pendidik adalah orang yang memikul pertanggungjawaban untuk mendidik. [1]. Dwi Nugroho Hidayanto, menginventarisasi bahwa pengertian pendidik meliputi: Orang Dewasa, Orang Tua, Guru, Pemimpin Masyarakat, dan Pemimpin Agama.
- Faktor Anak Didik
Anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedang dalam arti sempit anak didik ialah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Dengan demikian, pendidikan berusaha untuk membawa anak yang semula serba tidak berdaya, yang hampir keseluruhan hidupnya menggantungkan diri pada orang lain, ke tingkat dewasa, yaitu keadaan di mana anak sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, baik secara individual, secara sosial maupun secara susila.
- Faktor Alat Pendidikan
Pengajaran yang baik adalah Alat Pendidikan yang terutama. Alat Pendidikan merupakan faktor pendidikan yang sengaja dibuat dan digunakan demi pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan.
Alat pendidikan berupa:
a. Perbuatan Mendidik (biasa disebut software); mencakup nasihat, teladan, larangan, perintah, pujian, teguran, ancaman, dan hukuman.
b. Benda-benda sebagai alat Bantu (biasa disebut hardware); mencakup meja kursi, belajar, papan tulis, penghapus, kapur tulis, OHP, dan sebagainya.
- Faktor Lingkungan
Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan organisasi pemuda, yang ia sebut dengan Tri Pusat Pendidikan, yaitu;
a. Lingkungan Keluarga (Primary Community), yang mempunyai fungsi ; Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak, menjamin kehidupan emosional anak. menanamkan dasar pendidikan, memberikan dasar pendidikan sosial, meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.
b. Lingkungan Sekolah, yang mempunyai fungsi; membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik, memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah,melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain yang sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan,di sekolah diberikan pelajaran (etika , keagamaan, estetika,moral), memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat dengan jalan menyampaikan warisan kebudayaan kepada generasi muda, dalam hal ini tentunya anak didik.
c. Lingkungan Organisasi Pemuda, mempunyai peran mengupayakan pengembangan sosialisasi kehidupan pemuda. Melalui organisasi pemuda berkembanglah semacam kesadaran sosial , kecakapan-kecakapan di dalam pergaulan dengan sesama kawan (social skill) dan sikap yang tepat di dalam membina hubungan dengan sesama manusia (social attitude).
Madness is what you demonstrate
And that's exactly how anger works and operates
Now, you gotta have love just to set it straight
Take control of your mind and meditate
Let your soul gravitate to the love, y'all, y'all
(black eyed peas_where is the Love)
Diolah dari berbagai sumber di Internet









0 comments:
Post a Comment